Oleh: D. Franklyn Purba, S.TP., M.P.

Matius 10:16

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Matius 10:16 ini merupakan salah satu ayat yang cukup banyak dibahas. Saat renungan ini ditulis, secara statistik di situs www.google.com, tulisan berupa renungan dari ayat ini sekitar 29.800 hasil pencarian dalam 0,29 detik. Eksegesenya sekitar 9.650 hasil pencarian dalam 0,34 detik, dan khotbah dari ayat yang sama sekitar 28.400 hasil pencarian dalam 0,32 detik. Dapat dipastikan teks yang sama dalam bentuk hard copy jauh lebih banyak lagi. Isu yang sering dikaitkan dengan teks ini adalah tentang bagaimana menghadapi ancaman, tantangan, penderitaan, atau penganiayaan terhadap orang percaya atau gereja di tengah-tengah dunia ini. Barangkali menjelang masa yang akan datang, kebenaran dari teks ini akan semakin sering di-sharing-kan karena sesuai pesan-pesan Alkitab akan masa-masa yang akan datang situasi dan kondisi dunia ini tidak akan semakin nyaman.

Kira-kira pesan kebenaran apa yang bisa direnungkan dari teks Matius 10:16 ini, khususnya bila dikaitkan dengan kehidupan beragama pada masa kini? Untuk memahami konteks perkataan Yesus pada ayat 16 ini, berikut ini dipaparkan gambaran dari ayat 5 – 33 sebagai berikut. Ayat ini berada persis di tengah dari rangkaian ayat-ayat 5 – 33. Ayat ini merupakan nasihat sekaligus antisipasi kepada murid-murid yang diutus untuk memberitakan Injil. Ayat 5 – 15 berisi pesan, perintah dan larangan-larangan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid yang diutus untuk memberitakan Injil. Ayat 17 – 33 berisi nasihat, petunjuk tentang realita yang dihadapi oleh murid-murid, peringatan-peringatan serta jaminan dari Tuhan Yesus kepada murid-murid yang akan memberitakan Injil. Bila dirangkum lebih detail lagi, maka terlihat beberapa hal-hal khusus yang mesti diperhatikan. Ayat 5 – 6 adalah pesan yang berisi tujuan dan sasaran pemberitaan yang jelas. Ayat 7 – 8 berisi pesan dengan tugas yang jelas. Ayat 9 – 15 berisi rambu-rambu dan petunjuk yang jelas. Ayat 16 sendiri adalah berisi strategi menghadapi situasi dalam pemberitaan Injil. Ayat 17 – 23 nasihat dan petunjuk ketika menghadapi situasi dan tantangan dalam pemberitaan Injil. Ayat 24 – 25 berisi gambaran kenyataan yang dihadapi murid ketika mengikut seorang guru. Ayat 26 – 28, berisi nasihat agar tidak takut akan ancaman, tetapi harus lebih takut kepada Tuhan. Ayat 29 – 31 adalah jaminan akan penyertaan Tuhan. Ayat 32 – 33 berisi tentang tantangan agar tidak menyangkal Tuhan Yesus dan konsekuensi apabila menyangkali-Nya.

Yesus sendiri yang mengutus pada rasul
Ayat yang kita baca diapit oleh dua konteks yang berbeda. Konteks pertama adalah tugas pemberitaan Injil kepada orang Israel. Konteks yang kedua adalah pemberitaan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Pesan, perintah, tugas, dan petunjuk dari Yesus sangat jelas. Namun yang sering kurang disadari adalah siapa yang mengutus dan bagaimana otoritasnya. Pada ayat 16 disebutkan, “Lihat, Aku mengutus kamu…” merupakan potongan kalimat yang menunjukkan bahwa yang mengutus para murid dan rasul adalah Tuhan Yesus sendiri. Kata “Aku” dapat ditegaskan dengan frase “Aku sendiri” yang mengutus. Pernyataan Tuhan Yesus ini merupakan suatu penghiburan, karena yang mengutus para murid adalah Tuhan yang berkuasa. Kalau kita melihat pernyataan Tuhan Yesus dalam Matius 18:18 – 20, “Di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya”. Nada yang sama kita temukan pada Matius 28:19 – 20, setelah Tuhan Yesus menyampaikan amanat-Nya, Ia memberikan sebuah jaminan penyertaan-Nya. Jika para murid menyadari otoritas Tuhan Yesus, tentu mereka diyakinkan bahwa Pribadi yang mengutus mereka adalah Pribadi yang berotoritas. Sama seperti para murid atau rasul yang diutus oleh Tuhan Yesus pada waktu itu, hendaknya yakin bahwa dalam tugas menjadi saksi-Nya di tengah dunia ini, tersedia jaminan penyertaan-Nya. Tuhan Yesus tidak memberikan jaminan bahwa semua akan berjalan dengan baik-baik saja. Justru Tuhan Yesus membukakan bahwa ada tantangan yang dihadapi ketika menjadi duta Kerajaan-Nya di tengah-tengah dunia ini, tetapi kita tidak dibiarkan sendiri, Ia hadir menyertai kita.

Diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala
Seorang penginjil terkemuka pernah berkata bahwa zaman di mana kita hadir adalah zaman yang paling tidak nyaman bagi generasi baru. Generasi sebelumnya tidak pernah mengalami cekaman situasi seberat masa kini. Teror, peperangan, bencana alam, gempa bumi, krisis ekonomi dan krisis sosial jauh lebih berat dibandingkan dengan masa satu atau dua generasi sebelumnya. Dan bahkan krisis keagamaan pun menjadi “terror” tersendiri bagi jiwa dan hati generasi masa kini. Betapa banyak orang menjadi takut menyaksikan imannya dicap sebagai penista agama dan bisa diancam di hadapan hukum yang berlaku.
Perkataan Yesus ini “Seperti domba ke tengah-tengah serigala”, menjadi perkataan yang harus dicermati dalam-dalam. Karena ternyata dalam pemberitaan Injil memiliki risiko tersendiri. Tuhan Yesus menggunakan gambaran domba dan serigala untuk memperbandingkan para murid atau para rasul yang lemah dengan dunia atau orang-orang dunia yang kuat atau ganas. Jadi sebagai rasul atau murid akan menghadapi sebuah konsekuensi atau tantangan yang tidak mudah dihadapi. Dalam konteks luas, hal ini merupakan tantangan sebagai saksi Kristus di tengah-tengah dunia ini. Oleh karena itu, Tuhan juga berpesan agar para murid atau rasul, “hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”.

Perkataan Tuhan Yesus tidak berhenti pada gambaran seperti domba ke tengah-tengah serigala, sehingga seolah-olah tidak ada kemungkinan untuk lolos dari tantangan yang dihadapi. Tuhan Yesus ingin menekankan, bahwa meskipun mereka akan berhadapan dengan situasi seperti di tengah-tengah serigala, mereka hendaknya seperti ular yang cerdik dan memiliki ketulusan seperti merpati.
Di dalam Alkitab, ular digambarkan sebagai binatang yang cerdik atau bahkan licik, sedangkan merpati digambarkan sebagai binatang yang bodoh atau polos. Maka dengan perumpamaan ini para murid harus punya strategi yang cerdik atau bijaksana, namun tetap di dalam ketulusan, atau motivasi yang murni dalam memberitakan Injil. Jadi tidak hanya cerdik seperti ular, tetapi harus tulus dan murni seperti merpati. Jadi kecerdikan dan ketulusan harus digabungkan. Jadi kita melihat bahwa pemberitaan Injil bukan soal kuat-kuatan dan menghalalkan segala cara, tetapi soal kasih, kebijaksanaan dan ketulusan. Pemberitaan Injil memang harus dengan strategi yang cerdik, namun harus dilakukan dengan motivasi yang murni. Itu sebabnya di dalam ayat 13 dan 14, Injil hanya diberitakan jika memang orang yang diberitakan mau mendengar atau mau menerima Injil. Injil tidak boleh dimanupulasi sehingga orang-orang mau menerimanya meskipun maksudnya sudah tidak murni lagi.

Memberitakan Injil menuntut komitmen sebagai risk taking
Pemberitaan Injil merupakan salah satu tugas utama gereja atau orang percaya. Namun karena risiko atau konsekuensi yang dihadapi dalam pemberitaan Injil, seringkali gereja atau orang percaya kurang berani memberitakan Injil di tengah-tengah dunia ini. Pemberitaan Injil memang sering kali menjadi momok tersendiri bagi gereja atau orang percaya yang kurang memahami kehendak Allah ini, bisa jadi karena kekurangpahaman, atau ketiadaan kasih untuk pemberitaan Injil, tetapi bisa juga karena adanya risiko atau konsekuensi yang dihadapi. Berita tentang penganiayaan dan penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara seiman di berbagai tempat belahan bumi ini sering kali membawa ekses yang menurunkan semangat pemberitaan Injil pada orang-orang percaya.
Dalam dunia bisnis, salah satu karakteristik pebisnis yang berhasil adalah karakteristik risk taking atau ‘pengambil risiko’. Sebuah usaha atau bisnis tidak akan pernah mengalami kemajuan yang signifikan jika tidak ada keberanian mengambil risiko. Hal yang sama juga pararel dengan tugas pemberitaan Injil, tidak akan ada kemajuan yang berarti jika orang-orang percaya tidak berani mengambil risiko atau konsekuensi akibat pemberitaan Injil. Dengan kata lain, tidak ada pemberitaan Injil yang tidak memiliki risiko. Maka, tetaplah beritakan Injil, hadapilah risiko yang mungkin terjadi, tetapi lakukanlah dengan cerdik seperti ular, dan tulus seperti merpati. Selamat memberitakan Injil. Amin.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *