Vena Melinda Tiladuru, S.Th

Kesaksian Pelayanan — Sekedar flashback lagi dikehidupan beberapa tahun silam, hidup dalam keluarga Kristen, dengan orang tua yang berstatus sebagai pelayan Tuhan, membuat saya juga aktif terlibat dalam kegiatan kerohanian sejak sekolah minggu. Gaya hidup tidak berbeda dengan orang Kristen lainnya dimana setiap minggu mengikuti kebaktian di gereja, setiap rabu mengikuti ibadah tengah minggu. Melihat kedua orang tua yang juga sibuk dengan pelayanan sana-sini sudah menjadi hal yang biasa. Tetapi hal tersebut hanya seperti sebuah siklus yang terus berputar dari tahun ke tahun dalam kehidupan keluarga kami tanpa menghasilkan pertumbuhan iman.
Memasuki usia remaja tidak ada yang berubah, tetap setia mengikuti kegiatan-kegiatan kerohanian yang diadakan oleh gereja sekalipun tidak lagi tinggal bersama dengan keluarga inti. Ditengah-tengah kehidupan remaja yang marak dengan pergaulan bebas saya masih bisa menjaga diri dan tidak ada kenakalan yang terlalu parah yang saya lakukan seperti kebanyakan anak remaja lainnya. Sekali lagi hanya sebatas itu saja yang saya ketahui tentang kehidupan menjadi orang Kristen.
Hingga pada akhirnya ketika masuk kuliah di sekolah teologi STT SAPPI, saya mulai disadarkan akan tujuan hidup orang Kristen sejati, menyadari dan mengetahui apa itu anugerah keselamatan dan bagaimana memperolehnya. Sekitar belasan tahun hidup dan menjalankan ritual kekristenan tetapi setelah menjadi mahasiswa teologi saya baru menyadari dan mengetahui bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Walaupun jauh sebelumnya Yoh 14 : 6 “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” sudah menjadi ayat hafalan. Secara pribadi saya tidak tahu kapan persisnya saya menemukan titik balik dalam mengikut Kristus tetapi yang saya ketahui saat ini saya telah menjadi seorang Kristen yang sudah mengerti apa tujuan hidupnya. Berbeda dengan kehidupan sebelumnya yang bisa dikatakan “Kristen tanpa Kristus” dimana hidup sebagai orang Kristen tetapi merasakan kehampaan dan kegelisahan.
Tidak ada kisah pertobatan dan kesaksian yang luar biasa seperti yang dialami oleh kebanyakan orang pada umumnya, tetapi saya menyadari saya telah mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan.

Sehingga sikap pendendam yang menjadi kebiasaan tergantikan dengan kemampuan untuk mengampuni. Sikap iri hati dan ambisi untuk mendapatkan penghormatan ditengah-tengah keluarga, mengejar kekayaan materi tergantikan dengan kerelaan untuk melayani.
Saat ini saya menjalani kehidupan dengan mendedikasikan diri untuk melayani Tuhan sesuai dengan talenta yang sudah Tuhan percayakan. Melayani dengan rasa ringan dan sukacita karena menyadari akan kasih karunia-Nya. Mungkin gambarannya singkat seperti potongan dari syair lagu Christ is Enough “ the cross before me, the world behind me.” Bersyukur saya disadarkan akan kasih anugerah Tuhan dan mengalami perjalanan rohani dengan Tuhan dalam usia yang masih terbilang muda.

Sehingga sikap pendendam yang menjadi kebiasaan tergantikan dengan kemampuan untuk mengampuni. Sikap iri hati dan ambisi untuk mendapatkan penghormatan ditengah-tengah keluarga, mengejar kekayaan materi tergantikan dengan kerelaan untuk melayani.
Saat ini saya menjalani kehidupan dengan mendedikasikan diri untuk melayani Tuhan sesuai dengan talenta yang sudah Tuhan percayakan. Melayani dengan rasa ringan dan sukacita karena menyadari akan kasih karunia-Nya. Mungkin gambarannya singkat seperti potongan dari syair lagu Christ is Enough “ the cross before me, the world behind me.” Bersyukur saya disadarkan akan kasih anugerah Tuhan dan mengalami perjalanan rohani dengan Tuhan dalam usia yang masih terbilang muda.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *