Oleh: Dr. drh. Ratna Katharina, M.S

Sebagai murid-murid Tuhan yang selalu setia, ungkapan kalimat “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” yang menjadi tema umum dari bulletin Mitra edisi semester genap 2019, tentulah sangat tidak asing di telinga kita semua. Kalimat tersebut juga merupakan kalimat yang senang saya gunakan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? Karena latar belakang yang menjadi dasar mengapa Yesus mengungkapkan kalimat itulah yang sungguh menarik dan luar biasa. Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati merupakan bagian dari ucapan Yesus dalam Matius 10:16 yang berbunyi: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”.

Konteks Matius 10 secara garis besar adalah perihal Yesus mengutus kedua belas muridNya. Ungkapan ‘cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati’ merupakan bagian perikop dari Mat 10:16-13 yang merupakan peringatan Yesus kepada murid-murid bahwa utusan Yesus akan mengalami penderitaan atau penganiayaan, namun Yesus sekaligus juga memberikan cara atau rahasia mengatasi atau merespon penganiayaan tersebut.

Penggambaran domba dalam alkitab adalah sebagai makanan, korban persembahan, dan umat Allah (Maz 23), Sifatnya jinak, penurut, peka akan kasih sayang (2 Sam 12:3), tidak merusak atau merugikan, tapi bersifat agak dungu yang justru sering menjadi kelemahannya yaitu mudah hilang atau tersesat (Mat 10:6). Oleh karena itu dalam pernyataan Yesus tersebut murid-murid digambarkan sebagai domba. Murid adalah murid yang lembah lembut dan patuh, telah diselamatkan atau telah dikuduskan. Murid harus siap diutus oleh guru, Yesus. Seperti Yesus yang telah diutus bapaNya ke dunia untuk menyelamatkan yang hilang (Yoh 3:16).

Penggambaran tentang Srigala dalam alkitab adalah musuh yang kejam, licik dan penuh tipu muslihst (Luk 13:32), sifatnya memburu mangsa dalam kegelapan malam dan bersembunyi siang hari (Habakuk 1:8, Zefanya 3:3), para pembesar Yehuda yang tidak bermoral (Yeh 22:27), nabi-nabi palsu (Mat 7:15), orang-orang yang dengan keji menentang pelayanan Kristen (Mat 10:16, Luk 10:3), guru-guru palsu yang akan membahayakan sidang Kristen dari dalam (Kis 20:29,30), dan suka menjarah (Yer 5:6).Srigala adalah gambaran dunia yang penuh dengan segala kejahatan dan kekejaman, seperti tipu muslihat, godaan, pembunuhan, dan sebagainya. Ke dunia fana seperti serigalalah, para murid dikirim oleh gurunya, Yesus.

Yesus memberikan cara kepada domba bagaimana melawan srigala. Yaitu agar cerdik seperti ular dan jinak seperti merpati. Sifat ular digunakan Yesus sebagai contoh untuk mengingatkan murid-muridnya berkenaan dengan perilaku mereka jika berada di antara penentang yang seperti serigala. Ciri-ciri ular yang terkenal menurut alkitab: tidak punya kaki dan sayap, kelihatan lemah, memagut (tapi kemudian melepas korbannya, Pengkhotbah 10:8), gerakannya yang meluncur (Atyub 23:13), tempat berlindungnya di batu, tahu bersembunyi dari bahaya yang mengancam, cenderung menjauh dari bahaya yang mengancam (Amos 5:9), Sifatnya hati-hati (Kej 3:1), dan simbol beriman dan tetap hidup (simbol ular tembaga yang dibuat mUsa, Bil 21:9), yang juga menjadi dasar simbol medis yang artinya memberi kesembuhan.

Kehati-hatian ular disinggung oleh seorang Zoolog terkenal dari Inggris (H.W.PAker dalam bukunya Snakes: A Natural History, 1977, hlm 49:
“Bahkan sewaktu mencapai tahap akhir pertahanan, serangan balasan tahap pertamanya mungkin lebih bersifat simulasi (pura-pura) daripada sungguhan; sergapan berkali-kali yang tampak garang dilakukan, tetapi tidak mengenai sasaran dan kadang-kadang bahkan mulutnya tidak terbuka. Pada tahap ini bukan pula hal yang ganjil apabila ular dengan diam-diam melepaskan gulungannya agar siap kabur secepat kilat andaikata musuh menyerang lagi. Tetapi jika serangan habis-habisan akhirnya terjadi, serangan itu mengikuti pola yang biasa digunakan untuk mendapatkan mangsanya, malah lebih buas lagi; spesies yang dalam kondisi normal hanya memagut lalu melepaskan korbannya, atau cuma mencekaunya, akan memaguti korbannya atau menyerang pengganggunya”.

Merpati merupakan metafora untuk sifat sifat lemah lembut dan baik hati yang diberikan kepada setiap orang yang percaya dalam Kristus (Mzm. 74:19; Kid. 2:14; 5:2; 6:9; Yes. 60:8; Hos. 11:11; Mat. 10:16), lambang Roh Kudus yang menekankan hakikatNya yang kudus, lembut, dan peka (Yoh 1:32), utusan perjanjian, karena dikatakan bahwa merpati telah membawa daun zaitun kepada Nuh. Burung Merpati pada umumnya hafal jalan pulang ke tempat asalnya. Walaupun ia dilepas di tempat yang jauh, ia sanggup untuk kembali ke rumah tempat ia dibesarkan, sehingga pada jaman dahulu sering digunakan sebagai jasa tukang pos (Kej. 8:12), lambang Roh Kudus pada waktu pembaptisan Yesus. Dalam Alkitab merpati bukanlah simbol perdamaian. Domba akan mampu bertahan bahkan mengalahkan srigala dengan dan hanya satu jalan yaitu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Artinya murid yang diutus Yesus ke dunia fana akan mampu bertahan dan menang, hanya dan hanya jika cerdik yaitu hati-hati, menjauhi permusuhan, lemah lembut, tulus dan peka.

Penerapannya bagi kita saat ini:

Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati berarti:

a. Tidak dibiarkan sendiri karena Yesus selalu berjalan bersama kita yang mengutus kita ke dunia fana ini.

b. Jika ada tantangan atau ancaman yang menyerang,

  • Maka harus berlindung pada Sang Gembala.
  • Selalu berhati-hati. Menghindari pertikaian atau permusuhan dengan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.
  • Tetap mengasihi sesama dan mengampuni musuh karena kita adalah utusan perjanjian dari Yesus
  • Datang kepada Tuhan dengan ketulusan seperti merpati, yang tahu jalan kembali kepada tempat asalnya, dalam hal ini adalah Yesus, yang empunya Kerajaan Sorga.
  • Datang kepada Yesus bukan dengan hati sombongdan angkuh, tetapi dengan rendah hati percaya sepenuhnya kepada Dia Sang Pemberi Hidup.

c. Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati berarti meneladani Yesus.

STT SAPPI dalam menjalankan Visi, Misi, dan Tujuannya di dunia fana ini, tentunya juga tidak terlepas dari berbagai tantangan atau ancaman. Namun percaya dapat mengatasi berbagai tantangan tersebut karena taat kepada firman Tuhan mau menjadi “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”.

Secara khusus, kepada para mahasiswa/i tingkat 4 yang pada bulan Juli-Agustus 2019, siap untuk diutus ke ladang Praktek Pelayanan Lapang (PPL) selama 1 tahun, lakukanlah perintah ‘Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati’ dalam masa pengutusan tersebut supaya nama Tuhan melalui STT SAPPI selalu dipermuliakan.

“Cerdiklah seperti ular dan tuluslah seperti merpati” maka kita akan jadi pemenang. Amin. ( 1 Kor 15:58)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *