Oleh: Robi Prianto, M.Th.

Iman yang teruji, itulah kajian teologi yang akan dibahas saat ini. Dari bahasan itu memunculkan pertanyaan seperti apakah itu iman yang teruji? Lalu apakah kaitannya dengan tema umum “Cerdik seperti Ular dan Tulus seperti Merpati”. Kalau kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengenai kata ‘iman’, maka akan memiliki arti yaitu kepercayaan (yang berkenaan dengan agama), sedangkan kata ‘teruji’ berasal dari suku kata ‘uji’ yang memiliki arti yaitu percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu. Jadi kalau kedua kata tersebut digabungkan, maka akan memiliki arti kepercayaan kepada Allah yang kokoh atau kuat. Melalui kajian teologi ini, kita akan melihat empat orang muda yang terbuang jauh dari tanah kelahirannya, bisa tetap bertahan dalam imannya, bahkan menjadi saluran berkat bagi orang-orang yang ada disekitar mereka.

Di dalam kitab Daniel 1:1-20, diceritakan bagaimana Allah memberikan penghukuman kepada bangsa Israel atas dosa dan ketidaksetiaan mereka kepada Allah, akhirnya Allah memberikan Yerusalem kepada bangsa asing yaitu kerajaan Babel. Yerusalem yang megah dan sombong akhirnya harus hancur lebur oleh kerajaan Babel, semua harta kekayaannya diangkut dan orang-orang yang tersisa dibawa ke negeri Babel sebagai tahanan dan dijadikan budak oleh Raja Nebukadnezar. Akan tetapi meski Allah telah memberikan hukuman kepada bangsa Israel, Allah tetap menunjukkan belaskasihan-Nya, dengan menggerakkan hati Raja Nebukadnezar untuk memilih orang-orang muda yang berkenan dihadapan Allah untuk dididik dan diperlakukan secara terhormat di dalam kerajaan Babel (Dan. 1:3-5). Diantara mereka yaitu, Daniel, Hanaya, Misael dan Azarya (Dan. 1:6-7).

Keempat orang muda yang terpilih itu, mereka berkomitmen untuk tetap setia kepada Allah, bahkan tidak mau menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum oleh raja (Dan. 1:8). Jika kita melihat posisi mereka yang baru mengalami peristiwa buruk, yaitu mungkin mereka kehilangan kenyamanan hidup di tanah kelahiran mereka, kehilangan harta benda, bahkan mungkin mereka harus kehilangan orang tua, kakak atau adik mereka, dan yang lebih parah mereka harus menjadi orang buangan di negeri yang sama sekali asing bagi mereka. Sebenarnya biasa saja keempat orang muda yg terpilih itu kecewa kepada Allah dan berpaling dari imannya. Namun keempat orang muda itu tidak menyalahkan Allah atas apa yang sudah terjadi dalam kehidupan mereka, bahkan mereka tetap setia dalam imannya meskipun godaan dunia sangat jelas di depan mereka.

Kesetiaan dan ketaatan mereka kepada Allah membuahkan hasil, yaitu mereka mendapatkan kasih karunia dari Allah melalui perantaraan orang-orang yang ada disekitar mereka, termasuk kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana kerajaan Babel (Dan. 1:9). Akan tetapi walaupun begitu apakah di dalam menjalani iman kepada Allah Yang Benar, mereka tidak mengalami hambatan dan rintangan? Lalu apakah kalau ada rintangan dan hambatan terhadap iman mereka, keempat orang muda itu bisa melewatinya? Apakah pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan iman keempat orang muda itu bagi kehidupan umat Kristen saat ini?

Jawabannya adalah justru keempat orang muda itu mengalami rintangan yang sangat besar, dimana rintangan itu semakin menguji iman mereka. Rintangan dan hambatan seperti apakah yang mereka hadapi dalam menjalani iman mereka kepada Allah? Dalam hal makanan dan minuman (Dan. 1:8 – 12). Keempat orang muda itu mengalami rintangan terhadap iman mereka dalam hal makanan dan minuman yang harus mereka santap setiap hari. Pertanyaannya adalah kenapa makanan dan minuman tersebut menjadi rintangan bagi iman mereka?

Padahal itu merupakan sajian terbaik yang diberikan oleh pihak istana. Alasannya adalah karena jika kita melihat jauh ke belakang, bangsa Israel memiliki suatu ketetapan hukum, yang disebut dengan Hukum Taurat (Kel. 20:1-17). Di dalam Hukum Taurat ada sepuluh perintah dan larangan yang harus ditaati oleh setiap orang Israel secara turun temurun, karena Hukum Taurat itu merupakan perintah yang Allah berikan kepada bangsa Israel supaya mereka bisa hidup dengan tertib dan berkenan kepada Allah. Walaupun pada kenyataannya tidak semua orang sanggup melaksanakan kesepuluh perintah tersebut, sebab dari kesepuluh hukum Tuhan itu ada banyak turunannya yang dibuat oleh bangsa Isarel sendiri dalam mengatur kehidupan sehari-hari mereka. Walaupun kesepuluh perintah Tuhan itu sangat sulit untuk dijalankan dalam praktik kehidupan sehari-hari, tetapi itu justru menjadi kebanggaan bagi setiap orang Israel.

Keempat orang muda itu tahu bahwa makanan dan minuman yang diberikan kepada mereka itu sama dengan yang diberikan kepada raja, maka semua makanan dan minuman tersebut sudah terlebih dahulu dipersembahkan kepada para dewa-dewa negeri Babel untuk didoakan baru setelah itu dihidangkan kepada raja dan seisi istananya. Hal itu bagi orang-orang Israel termasuk Daniel dan kawan-kawannya merupakan suatu bentuk kekejian kepada Allah, oleh karena itu Daniel dan kawan-kawan tidak mau menyantapnya, dan meminta penggantinya dengan sayuran. Tentu saja permintaan mereka tidak langsung dituruti karena pegawai istana takut kalau mereka hanya memakan sayuran saja, maka mereka akan kelihatan kurus dan tidak segar, dan jika raja melihat hal itu, maka pegawai istana yang akan terkena imbasnya yaitu dapat hukuman dari raja, karena dianggap lalai dalam pekerjaannya dan tidak memperhatikan asupan gizi Daniel dan kawan-kawanya itu. Daniel mengerti akan kecemasan dari pegawai istana itu, dan dalam situasi yang demikian Allah mengarunikan hikmat kepada Daniel, maka Daniel meminta kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk diadakan percobaan antara Daniel dan kawan-kawanya yang makan sayuran dengan orang-orang muda lainnya yang menyantap makanan dan minuman yang disajikan sama kepada raja selam sepuluh hari, jika dalam sepuluh hari perawakan Daniel dan kawan-kawanya lebih kelihatan kurus dan tidak segar daripada orang-orang muda yang lainnya, maka pegawai istana boleh memperlakukan mereka sama dengan yang lainnya (Dan 1:11-16).

Allah memperhatikan kesetian dan ketaatan Daniel beserta kawan-kawanya terhadap-Nya, oleh karena itu tepat sepuluh hari berlalu masa percobaan yang diminta oleh Daniel, Allah memberikan Daniel dan kawan-kawanya perawakan yang lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk, dibandingkan dengan orang-orang muda lainnya (Dan 1:15). Karena iman mereka kepada Allah, dan mereka setia kepada imannya, serta tetap memilih taat kepada perintah Allah, maka Allah mengarunikan kepada Daniel, Hanaya, Misael dan Azarya pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, lebih dari itu Daniel diberikan juga pengertian mengenai berbagai-bagai penglihatan dan mimpi (Dan 1:17). Daniel dan kawan-kawannya akhirnya bekerja kepada Raja Nebukadnezar, bahkan Allah menjadikan keempat orang muda itu sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaan Babel (Dan 1:20).

Pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah Daniel dan kawan-kawan bagi kehidupan orang Kristen saat ini? Secara khusus bagi kehidupan orang Kristen yang ada di Indonesia? Saat ini bangsa Indonesia baru saja melangsungkan pesta demokrasi yaitu pemilihan presiden dan wakil-wakil rakyat secara langsung. Meskipun agak sedikit diwarnai dengan aksi-aksi demo sebagian masyarakat yang tidak puas dan menolak hasil Pemilu, bahkan pasca Pemilu masih banyak ditemukan ujaran kebencian dan berita-berita hoak di media sosial seperti facebook, Instagram, twitter, dll. Dalam situasi tersebut, mau tidak mau orang Kristenpun terlibat di dalamnya. Namun setiap orang Kristen diajak untuk belajar dari kisah Daniel dan kawan-kawannya, meskipun dalam keadaan sulit mereka tetap taat dan beriman kepada Allah dan menjadi berkat bagi orang lain, bahkan orang-orang yang sudah menghancurkan tanah kelahiran mereka.

Dalam situasi yang sedang memanas saat ini, seharusnya setiap orang Kristen menjadi pembawa damai ditengah-tengah lingkungannya, dengan menjadi penengah, bukan ikut terlibat di dalamnya. Justru di dalam keadaan saat inilah iman Kristen sedang diuji. Kenapa iman Kristen sedang diuji, karena Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada murid-murid-Nya termasuk orang Kristen saat ini untuk menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16). Artinya adalah setiap orang Kristen diajak untuk berhikmat di dalam mengekpresikan imannya ditengah-tengah lingkungan orang yang belum percaya secara tulus, sehingga orang lain bisa merasakan kasih Yesus dalam diri kita orang Kristen dan melihat adanya perbedaan hidup sebagai orang Kristen dengan hidup di luar Kristen.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *